Kemesraan
ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin kukenang selalu. Penggalan
syair lagu duet Iwan Fals dan Rafika Duri itu, cukup populer akhir tahun 90-an.
Pesan lagu itu cukup romantis, agar kemesraan yang telah tumbuh, jangan
dibiarkan berlalu begitu cepat. Lho, lalu apa hubungannya dengan rumah tangga
kita? Jelas dong ada. Lepas pesan itu ditujukan kepada siapa, tapi
setiap pasangan rumah tangga Muslim wajib memelihara kemesraan hubungan mereka.
Karena Islam sendiri memerintahkan rumah-rumah tangga Islam harus tetap terjaga
keasrian dan kenyamanannya.
Kemesraan
pasangan suami-istri (pasutri), khususnya kemesraan di malam hari, tak boleh
diremehkan. Rasulullah dalam banyak haditsnya bahkan memerintahkan
masing-masing pasutri untuk tidak membiarkan penampilannya lecek, kotor,
dan beraroma tak sedap. Salah satu pesan Rasulullah SAW kepada kalangan pria
antara lain; "Janganlah kamu (kaum pria) berpenampilan kotor dan bau,
seperi penampilan orang-orang Yahudi ketika berhadapan dengan istri-istri
mereka. Karena banyak wanita-wanita Yahudi yang menyeleweng lantaran
suami-suami mereka berpenampilan kotor!"
Adalah tidak
adil, jika istri dituntut memberi pelayanan optimal, sementara suami tak
memperhatikan penampilan dirinya. Bahkan sesungguhnya seorang wanita diberi
kebebasan oleh Islam untuk berpisah dari pasangannya, apabila penampilan
pasangannya tidak memuaskan dirinya. Kasus ini pernah terjadi di zaman Nabi
SAW, ketika seorang wanita datang menghadap beliau mengadukan persoalan rumah
tangganya. Wanita itu mengatakan, ia ingin cerai dari suaminya, lantaran
penampilan sang suami yang tidak menarik hatinya. "Saya khawatir saya
tidak bisa ta'at kepadanya, hingga saya ingin bercerai darinya," tuturnya
pada Nabi SAW. Setelah panjang lebar mendengarkan pengaduan si wanita, akhirnya
Nabi mengabulkan permohonannya.
Sebaliknya Islam
juga memerintahkan istri memberikan pelayanan sebaik mungkin, jika tidak ada
alasan-alasan objektif dia harus menolak ajakan suaminya. Kepada istri yang
baik camkanlah, bahwa memenuhi kebutuhan suami adalah ibadah mulia. Hendaknya
dia tidak memandangnya sebagai aktivitas yang bertujuan hanya sekadar untuk
memenuhi kebutuhan syahwat suaminya. Namun anda harus melihatnya sebagai salah
satu sarana penting untuk memelihara kehormatannya, menundukkan pandangannya,
membuatnya konsisten dengan agamanya, serta menjadikannya profesional dalam
bekerja.
Siapa yang patut
disalahkan, ketika seorang suami melirik wanita lain, lantaran si istri menolak
ajakannya untuk bercumbu di malam hari? Ketika dahaga syahwat suami tak
mendapatkan muara, seperti yang diharapkannya?
Dalam keadaan
apapun, kegiatan kencan suami-istri pada malam hari seyogyanya tidak terganggu
oleh berbagai beban pikiran macam-macam. Kita bisa mengambil pelajaran dari
kisah seorang Ummu Sulaim, sohabiyah yang amat bijak tatkala menghadapi
suaminya pada malam hari. Padahal ia baru saja kehilangan putra tercintanya.
Coba simak kisah di bawah ini.
Ketika itu
seorang anak Abu Thalhah sedang sakit keras. Kemudian Abu Thalhah pergi, dan
sebelum pulang, anaknya meninggal dunia. Ketika pulang ke rumah, Abu Thalhah
bertanya kepada istrinya;
"Bagaimana
kabar anakku?"
Ummu Sulaim
(istrinya) menjawab; "Ia lebih tenang dari sebelumnya."
Kemudian Ummu
Sulaim menghidangkan makan malam dan Abu Thalhah pun menyantapnya. Ia juga
melakukan hubungan suami-istri sebaik mungkin. Setelah semuanya selesai; Ummu
Sulaim mengadukan perihal anak mereka yang sebenarnya kepada Abu Thalhah.
Singkat cerita,
Abu Thalhah gusar mendengar pengakuan istrinya. Dia menilai bahwa istrinya
telah berdusta, hingga mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Tapi di luar
dugaan Abu Thalhah, ternyata Rasul mulia membenarkan tindakan Ummu Sulaim. Apa
yang dilakukan Ummu Sulaim yang bermaksud untuk tidak ingin merusak suasana
romantismenya dengan sang suami, bahkan dipuji Nabi SAW.
Sejumlah riwayat
menyebutkan sebagai berikut. Rasulullah saw bersabda; "Apabila salah
seorang di antara kamu tertarik oleh seorang wanita, lalu muncul keinginan di
dalam dirinya..., maka hendaklah ia menemui istrinya, dan berhubungan badan
dengannya. Sebab dengan begitu, ia dapat mengendalikan dirinya." (HR
Muslim)
"Tidak
halal bagi seorang istri untuk berpuasa, sementara suaminya bersamanya (bukan
dalam bepergian), kecuali dengan izinnya. (Muttafaq 'alaih)
Sungguh mulia
jika seorang istri mampu memberikan kepuasan kepada suaminya. Bayangkanlah,
suami anda berhasil menundukkan pandangannya, menyelamatkan dia dari perbuatan
zina, lantaran anda memenuhi ajakannya semalam. Bukankah anda ikut berperan
dalam menyelamatkan suami anda dari perbuatan nista?
Jika suami anda
bekerja dengan syaraf yang rileks, lapang dada, dan mengerjakan tugas-tugas
kantornya dengan etos yang tinggi, lantaran andil anda semalam, sungguh
perbuatan anda sangat berarti bagi karirnya. Ia akan lebih produktif, dan
melakukan tugas-tugasnya dengan akurasi penyelesaian yang tinggi.
Sebaliknya, coba
bayangkan, seandainya suami anda bekerja dengan tidak tenang, urat syarafnya
tegang, selalu salah, nervous menghadapi setiap orang, serta tidak
optimal dalam menyelesaikan tugas-tugas kantornya. Sebab, ia berangkat bekerja
dalam keadaan gundah, karena anda telah menolak ajakannya, dan tidak peduli
terhadap dahaga syahwatnya.
Karena itu
Rasulullah SAW menjanjikan bagi wanita yang memberikan pelayanan baik kepada
suaminya, pahala yang sepadan dengan setiap kebaikan yang dilakukan oleh suami
kepadanya. Tidak diragukan lagi, bahwa menuruti ajakan suami, adalah salah satu
bentuk ibadah mulia di sisi Allah 'Azza wa Jalla.
Jika suami telah
menjaga kehormatannya, menundukkan pandangannya, bekerja dengan profesional,
dan mendapatkan pahala atas semua kebaikan tersebut, maka tidak diragukan bahwa
istri akan mendapatkan pahala yang sepadan dengan pahala yang didapat suaminya.
Tunggu apa lagi,
ayo bermesra-mesraanlah dengan pasangan anda sebaik mungkin, sembari mengingat
penggalan syair Iwan Fals: "Kemesraan ini janganlah cepat berlalu!"
(sulthoni)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar