Ada persepsi
keliru yang lazim difahami masyarakat kita. Seolah-olah suasana romantis hanya
dibutuhkan oleh pasangan suami-istri (pasutri) muda alias pengantin baru?
Padahal sesungguhnya, penganten lama pun butuh suasana romantisme itu. Agar
suasana hubungan pasutri tidak menjadi hambar ditelan usia pernikahan. Sebab
saat perjalanan bahtera rumah-tangga kita kian jauh, ia justru kian membutuhkan
energi besar, agar bahtera itu tidak kandas sebelum mencapai tujuannya. Energi
besar itu adalah cinta yang harus tetap hidup di antara pasutri.
Kita (baik
sebagai suami maupun istri), seyogyanya tidak perlu sungkan-sungkan
mengungkapkan bahasa cinta kita pada pasangan kita, baik secara verbal maupun
non-verbal. Walaupun mungkin banyak yang menganggapnya sepele, tapi hal ini
sangat penting untuk menjaga suasana cinta tetap segar antara kita dengan
pasangan kita.
Bahasa verbal
adalah ungkapan lisan yang tulus tentang kondisi objektif perasaan kita.
Tarohlah kita senang dengan masakan istri yang memang kita rasakan lezat, maka
ungkapkanlah rasa puas itu. Misalnya, "Mi.., masakan umi betul-betul lezat
deh. Umi ini memang istri abang yang pinter!"
Jangan pelit
untuk mengungkapkan bahasa cinta walaupun hanya sekadar pujian, atau ungkapan
senang. "Wah abang ganteng deh kalau pakai baju ini. Kelihatan kayak anak
muda aja! Siapa yang nyangka di luar, kalau abang sudah punya anak lima?"
Atau ungkapan
rasa puas, ketika istri berpenampilan agak istimewa. Katakanlah misalnya,
ketika kita pulang bekerja istri menyambut kita dengan penampilan
"fresh" dan wangi. Kalau kita puas dengan penampilannya, kita harus
membiasakan memujinya secara verbal. Tak perlu sungkan untuk mengatakan;
"Duh umi malam ini kelihatan cantik sekali deh! Cinta abi jadi kian
bertambah nih, kalau umi berpenampilan segar terus...!"
Begitupun
panggilan-panggilan manja kepada masing-masing pasangan, jangan dianggap hanya
milik pengantin muda. Kita, pengantin yang telah senior pun perlu suasana mesra
itu. Sebagaimana Rasulullah SAW selalu memanggil panggilan-panggilan manja
kepada istrinya.
Rasulullah saw
biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti
'Aisy, dan Humaira (pipi merah delima). (Al Hadits)
Ungkapan seperti
di atas pasti tidak sulit dan bahkan tak perlu biaya. Tapi tahukah kita, hal
yang sering dianggap sepele itu, dampaknya sangat besar dalam menguatkan rasa
cinta antara kita dengan pasangan kita?
Sedangkan bahasa
non-verbal adalah dengan perlakuan romantis kepada masing-masing pasangan.
Suami maupun istri harus memberikan atensinya terhadap hal yang satu ini. Sikap
dan perlakuan romantis akan menguatkan hubungan dan cinta antara kita dengan
pasangan kita.
Dari Atha' bin
Yasar: "Sesungguhnya Rasulullah saw dan 'Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan
'Aisyah, tiba-tiba 'Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, 'Mengapa engkau
bangkit?' Jawabnya, 'Karena saya sedang haid wahai Rasulullah.' Sabdanya,
'Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.' Aku
pun masuk, lalu berselimut bersama beliau." (HR Sa'id bin Manshur)
Dalam riwayat
lainnya, bahkan Rasulullah SAW biasa mandi bersama dengan istri beliau, 'Aisyah
r.a. Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Aku biasa mandi bersama dengan Nabi
saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke
dalam bejana)." (HR 'Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)
Boleh jadi
sampai saat ini kita masih saja berasumsi, kata-kata atau sikap mesra hanya
pantas untuk pasangan pengantin baru. Bagi kita yang telah menjalani sepuluh
atau belasan tahun berumahtangga, suasana romantis itu tak diperlukan lagi.
Asumsi itu jelas
keliru. Sikap romantis sangat diperlukan untuk memelihara kelanggengan hubungan
suami-istri. Hubungan pasutri yang harmonis, tentu akan berdampak pada lahirnya
cinta dan kasih sayang antar sesama anggota keluarga seluruhnya. Selain itu
keharmonisan rumah tangga juga akan memberi perlindungan pada seorang
suami/istri dari perbuatan zina.
Camkanlah, bahwa
seorang istri yang telah memuaskan kebutuhan seksual suaminya, sesungguhnya dia
telah melakukan ibadah mulia. Karena ia telah menjaga kehormatan suaminya,
membuat si suami menundukkan pandangannya, membuatnya menjadi konsisten dengan
agamanya.
Cobalah
bayangkan, seandainya seorang suami menyeleweng dan tergoda oleh lirikan wanita
lain, lantaran istri menolak ajakannya. Maka secara tidak langsung si istri
telah ikut menjerumuskan suaminya ke dalam perbuatan zina. Na'udzubillah min
dzalik.
Maka, bercintalah wahai suami-istri sholeh dan
sholehah dengan mesra. Karena kemesraan itu akan membuat cinta kita akan
semakin "hot" walaupun usia pernikahan kita semakin uzur. Cobalah!
(sulthoni)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar